Rabu, 04 Mei 2011

Memutar Posisi Janin

Harusnya, pada usia kehamilan di atas 8 bulan, kepala janin berada di bawah dan bokongnya di atas. Hingga, saat persalinan nanti, pengeluaran bayi jadi lebih mudah dilakukan. Akan tetapi, pada kenyataannya tak selalu posisi demikian yang diperoleh ibu hamil. Banyak pula yang mengalami kelainan posisi janin berupa letak sungsang atau letak lintang.
Tentunya, kelainan-kelainan tersebut harus diatasi sejak mulai terdeteksi.Deteksi bisa saja datang dari si ibu. Misal, pada janin sungsang, yaitu bila posisi janin memanjang sejajar sumbu panjang rahim, dengan bokong janin berada di bagian terendah, Ibu dapat merasakan dari tendangan si janin yang lebih banyak geraknya ke bawah.
Gerakan di bawah adalah gerakan yang didominasi oleh kaki. Dengan demikian berarti kepala dan tangannya berada di atas. Padahal normalnya, setelah usia kehamilan 7-8 bulan, ibu akan merasakan gerakan janin lebih banyak di atas pusar. Ciri lain: bagian yang keras (kepala janin) mendesak tulang iga ibu hingga menimbulkan rahim sesak atau tertekan.
Ada pula gerakan janin yang mendominasi di perut sebelah kiri atau kanan. Jika ini terjadi, kemungkinannya adalah letak janin melintang. Posisi-posisi ini jelas tak seharusnya dan ibu harus segera minta kepada dokter ahli untuk mengubahnya.Tapi ingat, penanganan harus dilakukan oleh dokter atau bidan yang benar-benar ahli. Karena tidak sembarangan kita boleh memutar-mutar janin.
Memang ada ibu yang tak dapat mendeteksi sendiri kelainan posisi janinnya. Dia pun tak dapat mengungkapkan secara spesifik mengenai pergerakan janin hingga perlu pemeriksaan ahlinya. Dokter atau bidan yang terlatih biasanya hanya melakukan perabaan di perut ibu. Dari perabaan itu dapat dirasakan di mana posisi kepala dan di mana posisi bokong.
Namun, pemeriksaan seperti ini sulit dilakukan terhadap ibu yang bertubuh gemuk karena rahimnya terhalang oleh lemak. Bila dokter tak yakin dengan perabaannya, akan dilakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi.
PENYEBAB
Letak sungsang ada beberapa variasi; dari letak bokong dengan kedua tungkai kakinya ke atas dan bokong di posisi yang terendah, letak sungsang sempurna di mana kedua kaki ada di samping bokong, dan letak sungsang tak sempurna di mana selain bokong ada bagian tubuh lain seperti kaki atau lutut berada paling bawah. Pada letak sungsang tak sempurna, biasanya satu kaki menjulur ke bawah hingga ke jalan rahim.
Adapun penyebab kelainan posisi pada janin, terang Dwiana, dari si janin sendiri.Tak ada pengaruh antara ibu yang beraktivitas tinggi, ibu yang memiliki penyakit kronis, atau ibu yang mengkonsumsi narkoba dengan kelainan posisi janin.
Dalam hal letak sungsang bisa disebabkan bayinya yang terlalu besar. Bila tubuh bayi terlalu besar, maka kepalanya tak bisa berputar ke bawah karena tak bisa masuk ke atas panggul.Namun, kenapa si bayi terlalu besar, bisa disebabkan ibunya yang kebanyakan makan. Akibatnya, si ibu kegemukan, begitupun bayinya. Karena itulah, ibu hamil kalau datang periksa, berat badannya ditimbang. Kalau berat badannya terlalu gemuk akan dinasihati untuk tak menambah berat badannya karena bayinya nanti terlalu besar.
Letak sungsang juga bisa terjadi saat hamil muda, di mana ukuran bayi masih kecil sementara ruangan rahim relatif luas, kepala janin akan terputar ke atas. Juga, terjadi pada ibu yang sering mengalami persalinan. Pada ibu yang sering bersalin ini, otot rahim akan molor dan ruangan rahim pada kehamilan berikutnya jadi lebih luas. Bila risiko ini ditambah lilitan tali pusat, dapat dipastikan janin akan sungsang. Lilitan tali pusat pada tubuhnya membuat dia tetap di posisi semula, kepala di atas dan bokong di bawah. Janin yang tak bisa memutar secara alamiah ini akan sungsang hingga melahirkan nanti.
Selain itu, sungsang juga disebabkan letak plasenta di bawah hingga kepala tak bisa turun. Sekalipun janin bisa berputar, kepala akan turun setengah hingga posisinya kadang jadi melintang. Ciri-ciri janin melintang. Tubuh akan membesar ke samping dan bagian tengah terasa kosong. Posisi ini bahkan lebih berbahaya daripada sungsang. Dalam persalinan lintang dikhawatirkan selain bayinya meninggal, ibunya juga. Karena kalau bayi itu melintang, dia tak bisa lahir, padahal kontraksi rahim begitu kuat. Dengan demikian, rahim bisa pecah, yang disebut ruptura uteri.
Hal lain yang dapat menyebabkan sungsang adalah terdapat kecacatan pada bayi. Misal, yang kepalanya besar (hidrosefalus) atau kepalanya tak ada tulang tengkorak. Kelainan-kelainan dengan bagian tubuh membesar dapat pula terjadi pada organ tubuh lain, seperti bahu, perut, dan bokong.
TAK BOLEH SEMBARANGAN
Tentunya, untuk melakukan tindakan terhadap bayi sungsang harus dilihat dulu penyebabnya. Sebab, untuk melakukan pemutaran tak boleh sembarangan. Jadi, tidak asal memutar. Bahaya sekali melakukan tindakan pemutaran kalau kita tak tahu persis apa penyebab bayi itu menjadi sungsang.
Larangan pun berlaku bagi dokter atau bidan yang tak terampil melakukan pemutaran. Yang melakukannya harus dokter atau bidan terlatih. Sebab kalau penyebab janin sungsang adalah lilitan tali pusat, tindakan memperbaiki akan menyebabkan bayinya malah tambah terjerat. Dalam kondisi seperti ini, kepala bayi tak akan bisa turun. Seandainya dipaksakan pun, bayi akan makin terjerat. Biasanya dokter atau bidan akan membiarkannya dalam posisi seperti ini. Kemungkinannya, persalinan dilakukan dengan jalan bedah sesar.
Cara memutar bayi sungsang dengan tangan yang dikenal dengan versi luar. Pertama-tama, si ibu dalam posisi terlentang, kondisi relaks, dan belum ada kontraksi. Bila sudah terjadi kontraksi, maka pemutaran tak dapat dilakukan karena rahim sudah tak relaks lagi dan ibu sudah siap melakukan persalinan.
Kemudian perlahan-lahan bayi kita geser dengan tangan dari luar. Pemutaran bayi boleh diteruskan bila tak terasa sakit. Bila terasa sakit, pemutaran harus dihentikan untuk mencegah terjadi luka di rahim, misal, plasenta putus atau rahim robek. Biasanya pemutaran dilakukan antara 10 sampai 15 menit dalam satu kali pemutaran. Pemutaran tak dapat dilakukan setahap demi setahap. Misal, hari ini bayi diputar setengah kemudian besok setengahnya lagi.
Sebaiknya jangan melakukan urut-mengurut. Ibu tak diperkenankan melakukan pemijatan di daerah perut apalagi rahim. Meskipun pengurutan dilakukan ahlinya, tetap dilarang. Apalagi bila ahli itu tak mengerti medis.
Posisi Bersujud
Teknik lain yang kerap dianjurkan jika posisi bayi sungsang ialah ibu melakukan psosisi seperti bersujud.Posisi ini dimaksudkan agar bagian janin yang sudah masuk rongga panggul akan keluar dan secara alamiah bayi punya kesempatan lebih luas untuk berputar. Tindakan ini lebih berhasil dan tak
membahayakan bagi ibu hamil maupun janinnya. Asalkan kehamilan masih cukup dini, di mana air ketuban masih cukup banyak dan penyebabnya bukan terlilit tali pusat.
Posisi sujud bisa dilakukan selama 15 menit setiap hari. Seminggu kemudian diperiksa ulang untuk mengetahui berubah tidaknya letak janin. Bila letak janin tak berubah, tindakan sujud bisa diulang. Bila berhasil, perut ibu perlu difiksasi (diikat) dengan gurita atau stagen agar janin tak berubah kembali.
Letak janin melintang tak bisa diatasi dengan tindakan seperti ini. Umumnya, bayi dengan letak lintang dilahirkan melalui bedah caesar. Bagi ibu hamil dengan janin melintang, perlu lebih berhati-hati ketika hamil tua. Janin melintang akan tetap aman bila ketuban utuh. Bila ketuban pecah, akan berbahaya bagi ibu dan janin. Untuk mencegahnya, hindari mengejan saat hamil tua, berhati-hati saat berjalan, dan jangan lakukan sanggama ketika hamil mulai tua.
Syarat "Permuatan" Bayi
Ada beberapa persyaratan dalam melakukan pemutaran janin sungsang:
1. Ibu tak boleh terlalu gemuk, hingga bayinya tak bisa dikenali atau diraba.
2. Air ketuban tak boleh terlalu banyak ataupun tak terlalu sedikit.
3. Saat pemutaran, ibu tak boleh merasa sakit. Karena rasa nyeri salah satu komplikasinya, plasenta lepas saat pemutaran dan bisa menyebabkan perdarahan. Perdarahan akan mengakibatkan bayi dan ibu meninggal. Selain, bisa juga terjadi robekan pada rahim ibu karena rahim ibu di usia hamil tua seringkali sudah tipis. Apalagi kalau si ibu sudah ada bekas operasi, berarti kontra indikasi.
4. Pemutaran dilakukan perlahan-lahan sambil mendengarkan bunyi jantung janin. Jika ada perubahan bunyi jantung janin, harus dihentikan. Pemutaran dianggap gagal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar